Pertanian

Berita Foto : Seminar Pertanian oleh Himpunan Alumni IPB

Seminar Pertanian

(Sumber : Bandungbaratonline.com/2010)

Himpunan Alumni IPB telah mengadakan seminar sehari dengan tema Perubahan Iklim dan Masa Depan Pertanian Indonesia yang bertempat di Jakarta pada tanggal 26 Juni 2010. IPB sebagai institusi pencetak sarjana-sarjana pertanian turut merasa bertanggung jawab atas berkembangnya pertanian di Indonesia (BBO/ACS).

Facebook Facebook   
 

Berita Foto : Spanduk Pekan Krida Pertanian di Kantor Deptan RI

krida pertanian

(Sumber : Bandungbaratonline.com/2010)

Spanduk bertuliskan semarak Krida Pertanian bertengger di sepanjang Jalan di Gedung Kementrian Pertanian RI Jakarta Selatan (BBO/ACS).

Facebook Facebook   
 

Berita Foto : Nanas Bubur dari Indragiri Riau

Nanas Bubur dari Indragiri Riau

(Sumber : Bandungbaratonline.com/2010)

Inilah Nanas Bubur dari Indragiri Riau. Nanas ini memiliki citarasa yang manis dan bentuknya yang besar, nanas ini sangat bagus untuk bahan olahan produk hasil pertanian seperti dodol nanas, selai dsb. Dinas Pertanian terkait saat ini sedang mendaftarkan varietas lokal nanas ini ke Kantor Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) Kementrian Pertanian RI (BBO/ACS).

Facebook Facebook   
 

Apakah Indonesia Perlu untuk Bergabung dengan UPOV ?

Apakah Indonesia perlu bergabung dengan UPOV (Organisasi Perlindungan Varietas Tanaman Dunia) ? Dilihat dari sisi positif atau negatifnya bergabung dengan UPOV. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ir. Priyono Kasubdit Permohonan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) Departemen Pertanian RI untuk saat ini Indonesia belum saatnya untuk bergabung dengan UPOV karena Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam (SDA), selain itu Industri-Industri benih di Indonesia harus benar-benar dipersiapkan kesiapannya terlebih dahulu agar bisa bersaing dengan benih-benih yang datang dari luar negeri. Menurutnya, Negara-negara Afrika yang kaya akan sumber daya alam (SDA) pun membikin organisasi UPOV tersendiri di lingkup Afrika.
Dilihat dari sisi positifnya bergabung dengan UPOV maka akan membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor benih made in Indonesia ke luar negeri, sedangkan dari sisi negatifnya adalah sumber daya alam Indonesia bebas untuk di akses oleh negara-negara lain, dan bebas untuk saling bertukar sumber daya genetik. Namun, walaupun SDA Indonesia bebas diakses, setidaknya undang-undang perlindungan varietas tanaman (PVT) tetap memberikan perlindungan kepada penyedia sumber plasma nutfah dalam bentuk royalti. Mungkin alasan pemerintah untuk tidak cepat-cepat bergabung dengan UPOV adalah agar Industri Benih Nasional dapat tumbuh dan berkembang terlebih dahulu. Agar Industri benih Indonesia bisa kuat, maka diperlukan peran dari pemerintah untuk memberikan daya dukung dan daya saing yang sehat. Bergabungnya Indonesia dengan UPOV tentu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Industri benih dalam negeri hal ini tentu akan menimbulkan persaingan. Namun, setidaknya hal ini akan membuat daya saing sangat ketat. Setidaknya Industri benih indonesia harus membuka cakrawala berfikirnya menjadi global dengan kekuatan sumberdaya plasmanutfah indonesia yang sangat kaya. Kita bisa mencontoh Belanda dengan kekuatan riset pemuliaan tanamannya mereka dapat mengekspor benih-benih hortikultura ke berbagai negara di dunia.
Mungkin pertimbangan lain belum bergabungnya Indonesia menjadi anggota UPOV adalah karena kebanyakan negara-negara ASEAN belum bergabung menjadi anggota UPOV kecuali negara Singapura yang telah bergabung. Begitupula dengan Thailand yang unggul dalam bidang pemuliaan tanaman tanaman hortikulturanya pun belum bergabung menjadi anggota UPOV.
Menurut data International Symposium (2009), jumlah industri benih di Kanada semakin meningkat ketika bergabung dengan UPOV, dari asalnya 51 menjadi 83 perusahaan benih. Menurut hasil penelitian diketahui bahwa dengan menjadi anggota UPOV itu ada beberapa keuntungan yaitu : (1) Miningkatkan Investasi di bidang pemuliaan tanaman (2) Lebih banyak lagi varietas bermutu yang dihasilkan untuk petani (3) Meningkatkan pendapatan petani (4) Meningkatkan Pembangunan Pedesaan dan (5) Meningkatkan ekspor di pasaran internasional.

* Penulis Pengamat Pertanian dan perlindungan Varietas Tanaman (PVT)
Bekerja di Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Am Badar and Partners

(Sumber : Kompasiana.com/aguscandra)

Facebook Facebook   
 

Ratusan Aktivis lingkungan dan Budaya Berunjuk Rasa di Depan Gedung Sate

Senin (31/5). Ratusan aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Pejuang Lingkungan dan Budaya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Aksi mereka ditujukan untuk mempertanyakan upaya Gubernur Jabar dan DPRD Jabar untuk mencabut SK kepada PT Graha Rani Putera Persada (GRPP).

Aksi itu dimulai pukul 10.00 WIB, dibuka dengan penampilan musik perkusi dari barang-barang bekas. Pertunjukan musik itu pun mengundang perhatian para pengguna jalan yang melintasi Jln. Diponegoro.

Menurut juru bicara Aliansi, Dadang "Utun" Hermawan, aksi hari itu merupakan aksi lanjutan yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Mereka memprotes kehadiran dan beroperasinya PT GRPP yang diberi hak oleh Kementerian Kehutanan untuk mengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu.

Baca selengkapnya...

 

Halaman 1 dari 6

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB